Tuesday, August 14, 2007

Bendera Setengah Matang

Geliat peringatan hari kemerdekaan makin nampak, marak mendekati harinya. Kira-kira di minggu kedua bulan Agustus (bahkan di daerah tertentu, sejak awal bulan), jalan jalan sudah berhias, bercat, dan bendera merah putih berpendamping umbul-umbul berjulangan hampir di semua pekarangan.
Entah terlampau menyita waktu, kalau pasang-lepas tiap hari, atau boleh jadi begitu besar kebanggaan atasnya, bendera merah putih yang gagah berani dibiarkan berhari-hari; merasakan terik, kemudian diguyur hujan dan bercampur debu. Sekiranya dihitung sejak awal bulan, maka akan selama 17 hari sang bendera berdiri siang malam.

Peringatan tahunan ini, semoga bukan kebiasaan yang tandus akan makna (lagi). Begitu pula pemasangan bendera bukan semata bukti patuh tanpa sadar utuh. Karena secarik bendera sepertinya bukan semata kain warna berukuran 2x3, namun ada pemikiran yang terkandung dan nilai yang menyatu dalam setiap helai benangnya. Tentu saja kita tidak layak menyamakan bendera dengan umbul-umbul atau spanduk yang dibiarkan menjadi "setengah matang".


Pic is from here

deen said...

setengah matang? sapa yg bikin telor ceplok?, *halah jd ikutan g fokus..
Lam kenal balek ..

ayahshiva said...

sama neeh, di kampung sampe saat ini semangat 17-annya masih belum kelihatan, kalah sama persiapan mau pilkada

ekowanz said...

tempatku udh mulai lomba2 dari senin kemarin...

vino said...

@deen
hullo deen, lam kenal :)

@ayahshiva
soalnya pilkada ada duwitnya hehe

@ekowanz
kalo 17an bole nyuri start... ;)

nananias said...

... yang lebih penting sih tidak berhenti di yang kasat mata. imho

vino said...

@nananias
iya donk. " tapi biasanya yang ga kasat mata gimana yah, kalo yang kasat mata aja begitu ?"

*ga berbanding lurus yah, tapinya*

PriyayiSae said...

pokoke... MERDEKA... Indonesia Raya 7 stanza!

Kang Adhi said...

gak cuma setengah matang, kadang-kadang sampai ganti warna oranye putih

deking said...

Semoga semua ini tidak hanya berhenti di tapal batas seremonialisme

dental said...

gw juga menaikkan bendera setengah tiang di depan rumah :D

vino said...

@priyayisae
iya pokoknya deh :D

@Kang Adhi
Yang merah jadi oranye,
yang putih jadi cokelat muda

*pakabar Kang ?*

@deKing
nah itu, dan bukan nambah itungan taun aja.

setuju deh deKing. ;)


@dental
berduka ga kepilih jadi gubernur?, hehehe

*ajarin jadi ngegantengin desain donk :D*

sezsy said...

kalo di kantor, pada lagi ngegerek taplak meja lho...
katanya sich latian buat upacara 17-an yang ternyata wajib diikuti seluruh karyawan,,,
hikz!!

vino said...

@sezsy
nah loh...
sonoh2 sezsy berdiri tegak-tegak 17an nanti, vino siyh mo nonton aja sambil makan rujak uleg
*hehe*

Agus said...

Nasionalisme yang hanya bersifat seremonia tidak akan bertahan lama.Saya membayangkan nasionalisme yang tumbuh saat piala Asia kemarin bisa kembali muncul di dada kita....

vino said...

@Agus
iya sih mas, nasionalisme menurut sebagian bersifat temporal, sewaktu memiliki common enemy

tito said...

hallo bang vin :D

almas said...

eh kok commentnya ilang ya...
hmmm

almas said...

harapan dan harapan terus kita pupuk ya... walau kita sendiri sudah tau harapan itu mustahil untuk terjadi.. tapi ga apa2 lah.. lebih baik menyalakan rokok ditengah kegelapan dari pada menyalakan lilin namun mati tertiup angin.

neng ika said...

semoga saja bangsa ini bisa lebih berdikari diatas kaki sendiri.
buat pak SBY-JK, berhentilah menciptakan konflik terus menerus. mulailah melihat dan berpikir tentang jutaan rakyatmu yang masih menjerit karena globalisasi dan kapitalisme sialan itu.

llllll said...

ya ampun nama blognya keren banget =( saya sangat suka.

mer . de . ka ! =)

peyek said...

wah..semangat ilang seiring selesainya seremonial

vino said...

@dokter tito
hallo juga dok, blognya bikin ketiwi2 :D

@almas
bang almas nih jualan pupuk, rokok atau lilin ? :D
*lam kenal*

@neng ika
sekarang berdiri di kaki siapa hayooo ? :D
*lam kenal*

@visien
iya nih balik MIV lagih setelah sempat lama di NV

@peyek
nah begitulah kita.
kebanyakan seremoni, kering essensi