Friday, December 1, 2006

Bangsa pegulat

akhir-akhir ini perhatian masyarakat banyak tertuju pada tayangan gulat dan teve yang menayangan acara tersebut. terhitung semenjak banyak jatuhnya korban yang disinyalir akibat dampak tidak langsung tayangan tersebut. bukan satu dua, anak-anak meninggal maupun cidera berat akibat meniru-niru pertarungan gaya bebas yang mereka saksikan. mesti dimaklumi, tipikal anak-anak memang sering menduplikasi kecenderungan lingkungan sekitar terdekat.jadi wajar saja bila akhirnya menjadi bagian dari kecenderungan itu sendiri. tragisnya merekalah yang menjadi korbannya.

peran orang tua
, sesungguhnya mutlak adanya. memantau tumbuh kembang dan memastikan kecenderungan anak sesuai jalur yang benar. akan tetapi sepertinya, melihat kecenderungan sekarang, sosok orang tua sebagai pengarah tingkah laku anak perlahan terganti peran semenjak interaksi keduanya sedemikian minim; secara kuantitas terlebih kualitas. dan keberadaan teve yang bisa setiap saat menemani, banyak mensubstitusi peran itu.
teve
sebagai media informasi komersil menjadikan reting sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan, berdasarkan seberapa besar penonton yang menyaksikan sebuah acara.sudah tentu permintaan pasar akan menjadi pertimbangan utama atas sebuah tayangan meski tentu kebijakan pemerintah menjadi pertimbangan pula.
pemerintah
sesungguhnya adalah representasi publik dalam menata tatanan masyarakat. adanya produk aturan yang dihasilkan semestinya diperuntukkan bagi kemaslahatan komunal bukan pihak-pihak penguasa kapital saja, secara parsial.

meski yang menjadi korban adalah anak-anak dari para orang tua, akan tetapi sebagai sebuah kesatuan komunitas; peran lingkungan (termasuk media), begitu pula pemerintah menjadi penting bahkan sangat penting. bukan hanya nasib seorang anak atau sebuah keluarga yang terancam, akan tetapi sudah menyangkut bangsa dan sebuah peradaban.

tentu kita semua tidak berharap, pelanjut peradaban kedepan adalah pribadi-pribadi yang brutal dan lekat dengan kekerasan. sehingga adalah peran kita untuk peduli; bukan saja atas apa yang di konsumsi fisik akan tetapi juga atas apa yang dikonsumsi psikisnya. sinergi sosok; orang tua, lingkungan (termasuk media) dan pemerintah dalam menjalankan peran, sesungguhnya akan menjadi solusi yang sangat relevan.sekarang dan kedepan.

pic is prom here

nananias said...

termasuk mencontoh gayagaya wakilwakil rakyat yang terhormat.

dan tentu utopia kalo tipi yang well akui aja termasuk hiburan murah, kalo ga punya di balai desa kan ada, akan sangat sulit tergantikan kalo belum ada ruang publik yang bisa dijadikan tempat bermain anakanak yang ga punya akses ke permainan sejenis edugames, fun and educative.

coba aja ada lapangan, wah anakanak pasti ga maen ps bayar 1000 itu lanjut smack down show lawan temennya tapi bisa asik maen layangan, maen kelereng, lompat tali. hmm deja vu.

dewi said...

sebenernya banyak sekali permasalahan terjadi akibat kurang adanya pengertian. entah itu tidak dibuat mengerti, atau memang tidak mau mengerti. mungkin hal2 dan segala macam masalah bisa dihindarkan, selama adanya saling memahami, maksud, tujuan, proses, dan segala bentuk hal yang berkaitan dengan masalah itu sendiri.

vino said...

buat nananias:
atau petak umpet
atau kucing-kucingan...
*jadi inget LEO*

buat dewi:
dan memahami membutuhkan kesabaran, keterbukaan. yah kan Dew
*tanda penyeru*