Monday, November 20, 2006

Unjuk rasa

bukan kapasitas saya untuk mewakili subjek pelaku. bukan pula mewakili objek penderita. pun sebagai analis yang menilai aksi unjuk rasa; apakah sebagai sebuah trend baru belaka, atau suatu reaksi sebagai kebutuhan sosial.

mikir-mikir lagi. untuk menilai muatan pun, bukan kapasitas saya sama sekali. apalagi milah-milah; ini unjuk rasa yang bener, ini keblinger.

nah. jadi angin apa yang membawa saya mau nulis berkali-kali kata bukan, secara bukan mewakili siapa-siapa, tapi keukeuh saja nulis tentang unjuk rasa.

tiga hari ke belakang. nalarku terusik dengan perkataan seorang tokoh yang menghilangartikan sama sekali sebuah unjuk rasa. “meski didemo, engga bakalan batal kan kunjungannya, jadi buat apa ? ”. lantas. saya berpikir lumayan lama.

bukankah ada edukasi diam-diam yang mau engga mau disebarluaskan media. dan kalo mau jujur, hal itu akan mampu menyelinap ke alam bawah sadar ruang nalar masyarakat.

kalo bicara hasil. sepatutnya kita tidak hanya menilai pada ceruk yang serba abrakadabra-alakazam. bukankah pengopiniumuman realita antithesis; yang tumbuh, merata tanpa batas usia dan tanpa sensor akan menjadi bara dalam sekam. revolusi pemikiran dimulai.


pic is from here

nananias said...

termasuk bukan kapasitas saya untuk komentar sepertinya :p

ketika saya tidak setuju dengan sesuatu bukan berarti saya bisa bilang hal yang tidak saya setujui itu salah.

itu aja sih menurutku.

a blast.

dewi said...

edukasi = educate = mendidik.
lagi - lagi masalah revolusi. tinggal prosentase, seberapa banyak yang membawa kearah yg lebih baek? atau justru menciptakan kehancuran itu sendiri. eh, yang lebih baek dan lebih buruk itu ada yah?

*wink*