Showing posts with label mindrise. Show all posts
Showing posts with label mindrise. Show all posts

Friday, February 22, 2008

mencerdaskan kehidupan bangsa(t)













upaya mewujudkan salah satu tujuan negara, yang termaktub dalam pembukaan UUD xxxx, semakin menampakkan keberhasilan. lahirnya anak -anak bangsa(t) dari kelas teri sampai setingkat kelas pejabat dan petinggi negara, telah menjadi bukti. pantas saja kalau negeri ini mampu menempati peringkat kelima di dunia dalam urusan korupsi. congratulation ! :(

Pic is from here

Wednesday, December 5, 2007

Masa, Bodoh ?

sejak ditemukan ladang gas alam cair di Arun pada tahun 1974, dan mulai produksi pada 1976, Aceh sepanjang 1979-1997 menyumbang devisa negara sebesar US $45.223.448. Melalui APBN dan Inpres, Aceh kebagian 0,05% dari total sumbangan LNG. Data BPS 1993 menyebutkan, dari 8 provinsi di Sumatra, Aceh merupakan provinsi yang memiliki desa miskin terbanyak. Dari total 5.643 desa di Aceh, 40,23% (2.275 desa) masuk peta Inpres desa tertinggal (IDT). Di kabupaten Aceh Utara, pusat industri besar, terdapat paling banyak desa miskin (692).
Demikian pula dengan Papua. Wilayah yang kaya akan tambang emas ternyata kaya juga dengan penduduk miskin. PT Freeport Indonesia yang berbasis di Timika, pada tahun 1996 memperoleh untung Rp. 97 triliun. APBN Indonesia tahun yang sama sebesar Rp 97 triliun. Ini berarti pengeluaran negara RI selama setahun sebenarnya cukup dibiayai dari keuntungan PT Freeport ini. Cuman sayang, justru saham negara pemilik ladang emas ini hanya 10%. Pemda Papua bahkan tak punya selembar saham pun.

Sedih rasanya menyaksikan penduduk negeri kaya (hanya) menjadi penonton atas kemewahan bangsa asing yang notabene kemewahan mereka itu didapat dari negeri ini. Tapi musti bagaimana lagi, kita-kita ini orang bodoh. Mungkin termasuk orang-orang (yang katanya) pinter yang neken kesepakatan atas eksploitasi di Aceh dan Papua. Sesama orang bodoh jangan membodohi lho !



Pic is from here

Monday, November 19, 2007

Buka Mata

“Ketika sekitar 9,5 juta keluarga di Indonesia belum mempunyai rumah, DPR berencana merenovasi rumah dinas anggotanya dengan dana yang tidak tanggung tanggung: 350 miliar rupiah”

para wakil rakyat yang terhormat itu, adalah hasil dari pemilu (yang konon paling demokratis) dengan menghabiskan biaya (rakyat) yang sangat besar dan menguras (mempermainkan) pikiran dan perasaan rakyat. tapi, ternyata pengorbanan rakyat berupa materi, pikiran dan perasaan berbalas pengkhianatan demi pengkhianatan. entah berpenutup apa nurani mereka sebenarnya?

Untuk Pemilu tahun 2009 KPU mengajukan anggaran Rp. 47,9 trilyun hanya untuk memilih orang-orang semacam begitu lagi ?. Memuakan ga sih.

Pic is from here

Friday, August 31, 2007

Dilarang: Orang Kere Disini !

Ramai-ramai mengeluhkan kenaikan harga-harga. Mulai dari minyak goreng sampai tarif jalan tol. Masyarakat kembali berteriak seperti yang terjadi sebelumnya.Tidak hanya biaya hidup, pendidikan, urus-urus kerja, transportasi, bikin usaha, perkawinan, semuanya serba mahal, atau kalau masih murah siap-siap akan ada “penyesuaian”. Sebenarnya masih mending kalau semua itu sebanding dengan kualitas pelayanan

Entah terlampau cerewet atau emang hak saya sebenarnya, untuk selalu mempertanyakan kenaikan harga-harga seperti sekarang. Bahkan saya sering berpikir “kok bisa, di negeri yang kaya akan minyak, tapi harga minyak tanah melambung-lambung ”.
Tapi, semakin hari, makin saya mengerti, bahwa mungkin negeri ini memang bukan untuk orang kere semacam saya.
Jadi, siapa suruh kamu (juga) tinggal di sini !


Pic is from here

Tuesday, August 21, 2007

Kecil-Kecil Jadi Manen

Niat baik pemerintah memberantas korupsi patut diacungi jempol, meski mesti disadari, tidaklah mudah menyembuhkan penyakit yang semakin lama semakin akut. Terjangkitinya penegak hukum, disinyalir telah membuat upaya penyembuhan penyakit ini semakin kurang (bahkan tidak) mujarab. Tidak hanya merugikan negara dalam perkara materi, jiwa-jiwa bangsa ini pun terancam, karenanya. Entah latah atau terinspirasi, banyak oknum masyarakat yang mulai tergiur untuk mengikuti perilaku-perilaku permisif elit kekuasaan.

Masa pembagian dana konpensasi kenaikan BBM, adalah masa panen bagi oknum aparat yang dengan alasan uang lelah pembagian, tega memotong dana untuk masyarakat yang saat itu benar-benar kesulitan hidup, dihimpit berbagai kenaikan harga, Dana BOS, Bantuan Operasional Sekolah, diperuntukkan membantu kelancaran pendidikan (terutama) siswa yang kurang mampu, diakui oleh sebagian oknum guru di”manfaat”kan untuk keperluan “entertain” pribadi mereka. Beberapa oknum mahasiswa kedapatan melakukan “mark-up” uang SPP, dengan memanipulasi kartu bayaran. Mereka tega mendungui orang tuanya yang mati-matian menyekolahkan mereka.

Sepertinya semakin hari, hal semacam ini sudah lumrah dan dianggap biasa. Dengan dalih; tuntutan kebutuhan, kepepet atau mencari uang sampingan, praktik praktik semisal itu menjadi halal. Ngomong-ngomong, apakah semua ini merupakan buah sukses kampanye “ayo korupsi” melalui keteladanan elit kekuasaan, yang tidak disadari ?


Pic is from here

Tuesday, August 14, 2007

Bendera Setengah Matang

Geliat peringatan hari kemerdekaan makin nampak, marak mendekati harinya. Kira-kira di minggu kedua bulan Agustus (bahkan di daerah tertentu, sejak awal bulan), jalan jalan sudah berhias, bercat, dan bendera merah putih berpendamping umbul-umbul berjulangan hampir di semua pekarangan.
Entah terlampau menyita waktu, kalau pasang-lepas tiap hari, atau boleh jadi begitu besar kebanggaan atasnya, bendera merah putih yang gagah berani dibiarkan berhari-hari; merasakan terik, kemudian diguyur hujan dan bercampur debu. Sekiranya dihitung sejak awal bulan, maka akan selama 17 hari sang bendera berdiri siang malam.

Peringatan tahunan ini, semoga bukan kebiasaan yang tandus akan makna (lagi). Begitu pula pemasangan bendera bukan semata bukti patuh tanpa sadar utuh. Karena secarik bendera sepertinya bukan semata kain warna berukuran 2x3, namun ada pemikiran yang terkandung dan nilai yang menyatu dalam setiap helai benangnya. Tentu saja kita tidak layak menyamakan bendera dengan umbul-umbul atau spanduk yang dibiarkan menjadi "setengah matang".


Pic is from here

Tuesday, August 7, 2007

Wakil (Cakil) Rakyat

Tidak lebih sekedar menuruti kebiasaan dari sonohnya; segala bentuk pemilihan di negeri ini ujung-ujungnya hanya meninggalkan bekas kecewa mendalam. Menjadi rahasia umum, iming iming program masa kampanye tidak lebih dari janji janji yang entah masih diingatkah oleh si pembuatnya ketika sudah ditempat yang nyaman ?

Kenyang rasanya menyaksikan tingkah polah wakil-wakil rakyat, yang entah diperkara mana mewakili rakyatnya.

Benar kiranya, ungkapan kekecewaan masyarakat yang mengatakan bahwa wakil rakyat telah mewakili rakyat dalam mengecap dan menikmati; bergelimangan harta, pujian dan kedudukan terpandang, selebihnya keberpihakan pada kalangan bawah, hanya sekedar dolanan saja; bermain-main dengan voting, walk out, yang menghabiskan begitu banyak biaya dan waktu. Ujung-ujungnya ditunda, dilupakan dan hilang dari agenda pembahasan.

Rakyat jelata, semacam kita. Seperti tidak mempunyai pilihan, kecuali mengikuti dan berulang ikut kembali dalam lelucon pemilihan yang kita tahu bahwa akhirnya akan menjadi objek penderita dari berbagai kebijakan yang dibuat. Kita selalu dikhianati, selalu.


Pic is from here

Sunday, March 11, 2007

harga bicara

|hari ini. pagipagi sekali. pelajaran berharga kembali kudulang. tentang penghargaan terhadap 'basa basi'. semisal istilah 'hade ku omong, goreng ku omong' yang dikenal dalam linguis Sunda. |atas sebuah perbuatan. terkadang beragam penafsiran berkumpul. meski secara absolute yang faham niatan perbuatan adalah subjeknya sendiri, tentu setiap mata yang menyaksikan tetap legal berasumsi. dan penglihatan menjudge sebatas apa yang terlihat. tidak lebih. |ucapan. akan menjadi explanation atas maksud dan alasan sebuah perbuatan. meski terkadang terlihat hanya sebatas excuse. hal itu adalah nampak lebih baik bagi sebagian. meski sebenarnya belum tentu demikian. |begini sepertinya. kerumunan sosial. (?).

dan mahalnya harga bicara menjadi awal '
musibah' bagi saya. pagi ini.


pic is from here

Sunday, March 4, 2007

Kamu Tuh !

masa bodo juga ternyata tetep aja kerasa. tentang perasaan tidak berharga, useless. atau tepatnya, merasa tidak berharga. persoalannya adalah; saya pernah merasakan menjadi targetman atas semua proyek proyek sosial yang dipunyai perkumpulan. sampai sampai susah rasanya, bercita-cita untuk sekedar nongkrong di perpus atau berlama lama di depan komputer. namun sekarang, malem tadi. untuk menjadi pembina junior junior saya saja, menjadi pilihan terakhir. meski alasannya logis "keluangan waktu", tetep aja tragis.
pikir pikir. maunya apa sih saya ini. diandelin, pengennya lari dari beban. diringankan dengan jobless atau bahasa halusnya, kurang diandelin, engga nrimo. kamu tuh, itu !

pic is from here

Saturday, March 3, 2007

Katup Energi

dalam sepak bola, dikenal mati langkah. semisal sosok kiper, kehilangan momen, satu ketukan saja dalam memulai meraih bola. hasilnya, meski tidak terbukti seratus persen benar, kiper kehilangan kesempatan menangkapnya. dan akhirnya kebobolan. biasanya, kesimpulan premature kiperlah yang menjadi pemantik kegagalannya.


ada sebuah tulisan bagus banget. tentang seorang sprinter yang sudah menggambarkan kemenangannya sejak memulai perlombaan. hasilnya, dorongan yang sangat kuat dalam meraih kemenangan dan berbuah kemenangan.
menurut logika sederhana saya, pemikiran adalah semisal saklar listrik yang menjadi katup hidup-matinya lampu. ketika pemikiran kita on (positif) maka semangat akan menyala. sebaliknya, jika pemikiran kita off (negatif) maka semangat akan meredup bahkan padam. pesimis.
hidup kita adalah perlombaan besar. pikiran adalah salah satu unsur kekuatan yang begitu hebat.

pic is from
here

Wednesday, December 13, 2006

Kesempatan Selanjutnya

kemaren. pagipagi banget dah di kantor imigrasi. ga peduli ada yang bilang kepagian. daripada nanti ngantri panjang. pas mo masuk, ada bule nanya-nanya. seadanya dijawab. 'moga aja dia ngerti' pikir saya. tapi, karena mungkin tau saya berat di omong, akhirnya dia pake bahasa indonesiaraya, meski terbata-bata. widih kecewanya hati. ga jadi deh inggris-inggrisan.
pas sama-sama di loket, masih aja pada diem. niat sih mo nyoba lagi ngomong. tapi susah mulainya; takut salah gremer, salah pokeb. sambil terus mikir apa yang musti ditanya; darimana, mokemana, kerjadimana. kita cuman pada senyum munyes aja. lagi sibuk mikir-mikir dan nyari waktu tepat, bule tu dah ngobrol ma orang lain dan nyambung kliatannya gedubrak deh. yawdah babay.

abis bayar-bayar buat poto. sambil grundel, ngambil duduk nunggu panggilan. ada ibu-ibu satu antrian didepan. entah mulai darimana. akhirnya kita ngobrol pake bahasa sunda. dia eh beliau ternyata doktor bidang peternakan satu almamater.
ngantri di wawancara. saya ngga pernah bisa tega ngeliat ibu-ibu berdiri. waktu dipersilahkan duduk, beliau menolak halus. bukan ga kebagian tempat duduk ternyata, emang mau berdiri sepertinya. suaminya aja tenang-tenang aja. duduk manis. hehe...
dah beres bayar-bayar langsung ke antrian cap jempol. si ibu doktor dan si ibu yang ama suaminya muncul satu persatu, akhirnya ngumpul bareng nunggu panggilan. kayak reunian. akhirnya ngobrol ngalor ngidul. tuker kartu nama. cerita kerjaan. keluarga. rumah anaknya yang deket rumah. janjian bisnis bareng. sampai akhirnya pamitan bareng. daaagh bareng-bareng

kadang lepasnya satu kesempatan, awal meraih kesempatan yang lain. jangan kecewa dulu


pic is from here

Sunday, December 10, 2006

l u n c h

mengambil jeda sejenak. disela pekat memenat. cawan, senduk terhidang. meski tak berbandrol tinggitinggi, cukup sesungguhnya.
memompa darah. menghangat. menerang lagi.
tawa renyah. bisik pemeriah. sederhana. ranum rasa, rasanya kembali. ada denyut nadi. ada degupan; baru. meski berakhir disaatnya. menyelesaikan jeda.

| makan siang bukan lagi semisal rutinitas pemenuhan fisik semata. cengkrama hangat yang mewarnainya; menghangatkan kembali aspek psikis. bukan melulu menu yang menarik, tapi suasana yang tersaji kadang mampu merehatkan kepenatan sejenak. sebelum pengkaryaan kembali dimulai |


pic is from here

Saturday, December 9, 2006

bukan bingkai semata

hampir setiap hari.saya temukan sesosok sempurna diatas kursi roda. mengantar peri kecilnya sekolah, membekali harap.wajah sumringah, kedua tangan memutar roda melajukan kendaraannya.sedang peri kecilnya duduk manis ’ceria’ dipangkuan. kondisi fisiknya tidak menyurutkan peran ayah bagi sang buah hati, seperti ayah anak-anak yang lain. pagi tadi.saya mendapati sang ayah menuntun peri kecilnya berjalan.keceriaan melarut dalam setiap putaran roda kendaraannya. lembut. hangat. sabar. seperti hendak berkata bahwa kesemuadia tidak pernah ada yang beda. kesemuadia tidak membenamkebumikan dirinya. mungkin kita lebih sering bersuara dengan aksesoris yang menempeli fisik.bukan kekayaan jiwa; ketegaran, kemenerimaan. kadang kita minder engga jelas. padahal jelas-jelas telah dilengkapi keanugerahanpurna. sepertinya, memang keperkasaan jiwa tidak selalu berbanding lurus dengan keperkasaan tampak.butuh ketelaten an menumbuhrawatinya. butuh kejujuran menerima dan berdiri atasnya.butuh kesadaran bahwa keberbedaan sebesar apapun tak layak membeda keberkesempatan, keberperanan.

pic is from here

Monday, December 4, 2006

sketsa

pernahkan berada di ketinggian. dimana kita bebas melemparpandang ke sekeliling. nampak; bangunan tinggi megah selayak satu garis.tidak lebih. berhektar hamparan sawah laksana kertas hijau beberapa meter persegi saja dan jutaan manusia terwakilkan dengan bintik-bintik titik. dihadapan pandangan kita. semua kecil. mintalah orang yang dibawah ketinggian mengamati kita. disaat berada pada posisi seperti itu.dihadapan pandangan orang lain. kita juga kecil.
mari meraba nurani. mengakui rasa kita terhadap pengecilartian. maka suatu perkara termaklumi jika sikap seseorang akan mempengaruhi citra dirinya. tidak memandang ketinggian jabatan, kemelimpahan harta, keluhuran ilmu. justru sikaplah yang akan menjadi batu ujian; kecil atau besar nilai kita. terutama dihadapan nurani.

pic is from here

Saturday, December 2, 2006

Tak bermusim

minggu-minggu ini bandung sudah ketiban hujan. menurut informasi, yogya juga sudah kebagian. memang, kalau menurut kebiasaan, musim hujan terjadi di bulan-bulan berakhiran ber. karena sudah musimnya, hampir setiap hari terus turun hujan, air berlimpah dimana-mana. bahkan sampai terjadi banjir.kalau sudah begini, kadang manusia ngomel juga.


setahun terakhir, sampai sekarang, kasus cerai yang menimpa sejumlah kalangan artis, sedemikian marak terjadi. motifnya beragam yang kadang mengundang tanya ‘istri cantik.suami tampan. dua-duanya kaya, kok cerai,... kurang apa ? ‘.
belum selesai kasus yang satu, kasus baru sudah muncul menyusul. gaungnya menguat seiring gencarnya pemberitaan. ibarat hujan, sepertinya ini yang disebut musim cerai.

mungkin tidak asing lagi dengan ungkapan yang kadang terdengar sinis; bahwasanya hidup, tidak cukup hanya bermodal cinta. simak sinema cinta remaja, yang sering mengungkap fenomena ini; dua insan berpaut asmara, berhadapan dengan kehendak orang tua yang lebih berpikir realistis; mantu yang mapan dan besan yang terpandang. realita memang kerap memberi bukti bahwa ungkapan tersebut ada benarnya.

kondisi kejiwaan manusia kadang bermusim, perasaan jenuh dan bosan mungkin akan hadir dikala kondisi alamiah pasangan berubah; usia, raut wajah, kesehatan dan semisalnya. dikala kondisi seperti itu, mutlak diperlukan energi yang menguatkan keduanya untuk bisa bersabar mempertahankan hubungan. energi yang hadir dari kedua hati. tidak menjadi soal energi itu hadir sebelum memilih atau setelahnya.yang pasti energi itu harus ada. dan mutlak adanya.energi yang tidak meminta syarat. energi yang tidak mengenal musim. karena hidup tidak hanya cukup bermodal materi. energi itu adalah cinta

pic is from here

Friday, December 1, 2006

Bangsa pegulat

akhir-akhir ini perhatian masyarakat banyak tertuju pada tayangan gulat dan teve yang menayangan acara tersebut. terhitung semenjak banyak jatuhnya korban yang disinyalir akibat dampak tidak langsung tayangan tersebut. bukan satu dua, anak-anak meninggal maupun cidera berat akibat meniru-niru pertarungan gaya bebas yang mereka saksikan. mesti dimaklumi, tipikal anak-anak memang sering menduplikasi kecenderungan lingkungan sekitar terdekat.jadi wajar saja bila akhirnya menjadi bagian dari kecenderungan itu sendiri. tragisnya merekalah yang menjadi korbannya.

peran orang tua
, sesungguhnya mutlak adanya. memantau tumbuh kembang dan memastikan kecenderungan anak sesuai jalur yang benar. akan tetapi sepertinya, melihat kecenderungan sekarang, sosok orang tua sebagai pengarah tingkah laku anak perlahan terganti peran semenjak interaksi keduanya sedemikian minim; secara kuantitas terlebih kualitas. dan keberadaan teve yang bisa setiap saat menemani, banyak mensubstitusi peran itu.
teve
sebagai media informasi komersil menjadikan reting sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan, berdasarkan seberapa besar penonton yang menyaksikan sebuah acara.sudah tentu permintaan pasar akan menjadi pertimbangan utama atas sebuah tayangan meski tentu kebijakan pemerintah menjadi pertimbangan pula.
pemerintah
sesungguhnya adalah representasi publik dalam menata tatanan masyarakat. adanya produk aturan yang dihasilkan semestinya diperuntukkan bagi kemaslahatan komunal bukan pihak-pihak penguasa kapital saja, secara parsial.

meski yang menjadi korban adalah anak-anak dari para orang tua, akan tetapi sebagai sebuah kesatuan komunitas; peran lingkungan (termasuk media), begitu pula pemerintah menjadi penting bahkan sangat penting. bukan hanya nasib seorang anak atau sebuah keluarga yang terancam, akan tetapi sudah menyangkut bangsa dan sebuah peradaban.

tentu kita semua tidak berharap, pelanjut peradaban kedepan adalah pribadi-pribadi yang brutal dan lekat dengan kekerasan. sehingga adalah peran kita untuk peduli; bukan saja atas apa yang di konsumsi fisik akan tetapi juga atas apa yang dikonsumsi psikisnya. sinergi sosok; orang tua, lingkungan (termasuk media) dan pemerintah dalam menjalankan peran, sesungguhnya akan menjadi solusi yang sangat relevan.sekarang dan kedepan.

pic is prom here

Tuesday, November 28, 2006

Perkakas pilih

capek banget rasanya.hari minggu kemaren. pergi dari bandung ke luar kota pp.ini judulnya musti-mustian emang. acaranya mendadak.jadinya beberapa agenda di undurin. di setengah perjalanan, dah berasa, bosennya. jalanan padat merayap.dan atmosfer engga sekondusif paris van java kuw. clingak clinguk cari sight yang menarik biar serasa asik. alah-alah, malah bikin pening bin puyeng kepala, ternyata.sliweran kendaraan roda dua bikin risih.

jadi inget aduan driver hotel sewaktu nganter jemput saya di jakarta:“biasanya maen masuk ajah. dah tau jalanan sempit, angger dibeubeuskeun. tuh liat pak, naik trotoar. dilarang nyalib kiri angger wae. coba deh kalo celaka, mobil kan yang kena priit”

ungkapan negasi itu sebenernya sebentuk pengakuan atas kelebihan kendaraan roda dua. coba deh tanya juga ke pemakainya tentang alasan kepemakaiannya. yang kebayang jawabannya; selain irit bensin, mudah, murah parkir.dan yang pasti lincah, bebas macet.
hari ginih, macet, emang sudah menjadi bagian hidup sehari-hari. bayangan saya, kalo jalanan udah macet, jawara dunia dengan skill ngebut seyahud gimanapun dan dengan mobil sese besar sekali pun, kayaknya angger wae ngajentul.meski dongkol, tetep musti terima. nah. dengan perawakan kendaraan yang kecil, meski bukan pembalap, pengguna kendaraan roda dua biasanya bisa keluar dari antrian panjang dan mendului antrian mobil yang udah ada didepannya.itulah mungkin salah satu kelebihan kendaraan roda dua saat jalanan macet.

bukan mau jualan kendaraan yang dimaksud lho, saya.atau mau membahas keunggulan-keunggulannya. tapi mikir mikir aja. sepertinya buat ngedapetin sesuatu dalam hidup. skill seseorang memang sangat penting. tapi, engga bisa dinafikan tentang tools dan memilih tools. bisa jadi adanya dan pilihan atasnya akan mempermudah pencapaian; lebih baik dibanding jika pake tangan kosong atau pake tools yang tak tepat. dan tentu semua bergantung medan yang dihadapi; apa atau dimana

kehidupan ini kan selayak menyusuri jalan. gak melulu berada di trek balapan; lurus, bebas hambatan, tanpa lampu setopan, tanpa zebra cross, tanpa polisi bobok. tapi kadang kita musti menapak jalan tikus yang mlengas-mlengos ga lurus. maka kemampuan memilih tools yang tepat sepertinya akan menyokong skill menyusuri jalan yang harus kita lalui. dan nalar akan menjadi sebagian penyempurna atas kesempurnaan purna.

pic is from here

angger = tetep
dibeubeuskeun=dimasukkan
ngajentul=diam
wae =saja


Saturday, November 25, 2006

Maskulinisasi perempuan

menarik. menangkap sisi peran dan alamiah sosok perempuan sebagai partner pria. melalui perjalanan jiwa yang mengagumkan. saya baru bisa meraih sebuah kenyataan yang dirasakan. belum dalam bentuk ide. melalui perjalanan nalar. yang tentunya sarat argumen dan mungkin eksperimen pemikiran. saya berharap kita bisa sama-sama menemukannya dalam bentuk rumusan ide. meski tak melulu tekstual.

secara garis besar.dua hal lontaran socrates dalam proposal menghilangkan stereotif gender. pertama, menghilangkan female modesty.sifat feminim wanita. kedua, melalui instrumen sosial.bahkan infanticide.untuk menghilangkan insting keibuan sebagai penghalang kesetaraan.

konsep gender berpendapat. hanya sifat maskulin yang bisa bertahan di ruang publik yang karena itu akhirnya sifat feminim tersisih. solusi atas semua ini adalah meraih sifat maskulin.maka akan terjadilah keseragaman sifat pria dan perempuan.
diakui memang. adanya perbedaan faktor biologis; semisal organ reproduksi, menstruasi, kehamilan dan melahirkan yang disebut sebagai nature. sedangkan peran sebagai ibu yang memelihara dan menyusui anak adalah pilihan karena merupakan nuture yang dibentuk oleh tatanan masyarakat dan bukan stereotifnya perempuan. sehingga pantas saja apabila infanticide merupakan hal yang legal.

telisik saya amat sederhana. benarkah nurture benar-benar karena faktor lingkungan. bukankah setiap aspek biologis berbareng dengan aspek naluri. organ reproduksi misalnya sudah tentu tidak melulu fisiknya saja yang berbeda dengan sosok pria. tetapi faktor hormonalnya pun berbeda. sehingga nalurinya pun tidak sama. naluri ke-bapak-an.berbeda dengan naluri ke-ibu-an. sehingga peran seorang bapak dan peran seorang ibu. bukanlah tuntutan tatanan sosial. akan tetapi panggilan naluriah yang bersifat fitrah. menulikan naluri 'atas nama' melawan dominasi maskulin sama saja dengan melawan nurani.


pic is from here

Friday, November 24, 2006

Memberi hak bicara

pembicaraan tentang Tuhan adalah tema pemikiran sensitif. tapi bukan berarti terlarang untuk dikonsumsi.

bagi sebagian kalangan.tema ini merupakan sebuah pemikiran mapan turun temurun.adanya sudah begitu saja. dan.dibiarkan begitu adanya. warisan pemikiran ini sudah barang tentu sarat akan definisi, deskripsi, sifat, tingkah dan berbagai hal yang terkait. Tuhan dipetakan keadaanNya, Tuhan dijelaskan sifatNya, Tuhan digambarkan tingkahNya, ada kasihNya ada murkaNya.

ketika ada kalangan yang mempertanyakan eksistensi pemikiran mapan. maka definisi, deskripsi, sifat, tingkah dan berbagai hal yang terkait di pertanyakan. dikoreksi. digugat. dan akhirnya muncul definisi baru, deskripsi baru, sifat baru, tingkah baru dan berbagai hal baru yang terkait. dan kemudian Tuhan dipetakan lagi keadaanNya, Tuhan dijelaskan lagi sifatNya, Tuhan digambarkan lagi tingkahNya, bagaimana kasihNya bagaimana murkaNya.

berusaha keluar dari lingkaran polemik wacana yang ada. dengan pola pikir yang sederhana. bahkan amat sederhana. ada ketakutan kecil saat berpikir tentang arogansi berpikir kita atas sosok Tuhan. bukankah yang berhak mendeskripsikan sifat dan tingkah Tuhan adalah diriNya sendiri. karena jika melakukannya kita telah merampas hakNya. maka mari, biarkanlah Dia bicara seperti kita ingin dibiarkan bicara. karena semestinya Dialah yang tahu persis akan diriNya. kemudian biarkan nalar kita mendengarnya.


pic is from here

Thursday, November 23, 2006

Special Edition

nulis versi narsis nih.jadi pengen malu. agak binun darimana mulai. akhirnya saya punya ide. ‘mandangin cermin’. dan.tragedi narsis dimulai.hihi.larak-lirik bolak-balik dari ujung rambut sampai ujung kaki…


rambut; hitam. lurus. lebat. mengkilat. tanpa ketombe;
mata;
belo. kecokelat-cokelatan;
hidung; nyaris mancung. lubang lengkap;
kulit;
sawo mateng.halus.cerah; ...

…kalo di pikir-pikir

|rambut; pirang kayak luke juga keren. kriting kayak andrian engga jelek. plontos kayak bob banyak yang bilang seksi. jaman sekarang mengkilat tanpa ketombe engga ada yang engga bisa. shampoo dan conditioner banyak |mata; sipit mirip ken malah imut. warna mata kebiru-biruan mirip armando malah mantabb.cuman perkara corak dan keulir aja. fungsi 100% sama. buat melotot. |hidung; pesek persis eko lucu. lagian sama-sama lebih; mancung. ketinggiannya lebih beberapa senti. dan. pesek, kedalamannya lebih beberapa senti. meski lubang satu, tetep bisa membaui |kulit; putih punya bernard benar-benar okehdeh. biar dapet halus cerah; pake cleansing. lightening. body lotion ditambah facial dan spa. semua orang juga bisa |

emang bisa kita sok-sok-an karena merasa lebih.atau.minder-minderan karena merasa kurang.?. kalaupun ada lebih atau kurang. beda-beda tipis aja deh. ngga ada istilah produk gagal. kalo beda ornamen. secara kita bukan barang pabrikan. pastinya engga mungkin seragam. karena setiap kita adalah special edition.


pic is from here